Tuesday, November 13, 2018

JAZU KISSA : "KUIL SUCI" PECINTA MUSIK JAZZ DI JEPANG


                        

                    Apakah anda menyukai musik Jazz? Kita pasti setuju apabila kita ingin menikmati musik Jazz, kafe adalah tempat terbaik untuk menikmatinya. Bagi anda yang menyukai budaya Jepang atau saat ini sedang berkunjung ke sana, saya sarankan untuk mengunjungi Jazu Kissa local ditempat anda menginap.
            Apa itu Jazu Kissa?
Jazu Kissa merupakan singkatan dari “Jazu Kissaten” yang berarti “kafe jazz”. Jazu Kissa sudah mulai bermunculan sejak Restorasi Meiji dengan sebutan meikyoku kissaten(名曲喫茶店). Tempat ini menjadi tempat dimana para pengunjung bisa mendengarkan musik klasik barat dengan ditemani oleh pelayan wanita (Takahashi : 2004). Mirriam Silverberg menjelaskan, kehadiran pelayan wanita kafe yang kian bertambah ini merupakan indikator bercampurnya budaya metropolitan barat dengan budaya masyarakat Jepang. Percampuran ini juga diikuti oleh perkenalan musik Jazz dari Amerika, yang kemudian menjadi musik wajib di setiap kissa.  Jazu Kissa pertama didirikan di Chigusa, Osaka Pada tahun 1933, dan beberapa kemudian sudah ditemukan 40.000 Jazu Kissa diseluruh negeri (1993, p.125).
Chigusa merupakan Jazu Kissa pertama yang berdiri di Jepang.
            Piringan Hitam yang di dapat
Pada tahun 1950an sampai dengan awal tahun 1960an, piringan hitam musik Jazz sangat sulit dicari. Salah satu cara tercepat untuk mendapatkannya adalah dengan mengimpornya. Hal ini tentu memberatkan para penggemar musik Jazz di Jepang mengingat harganya yang sangat mahal. Untuk bisa menjadi penggemar yang paling uptodate  dan tidak membuat kantong bolong, mendengarkan piringan hitam musik Jazz bersama-sama di Jazu Kissa merupakan solusi terbaik (Novak, David : 2008).
                        Semakin langka piringan hitam yang diputar, semakin ramai pula pengunjung yang berdatangan. Hal ini membuat semacam persaingan antar satu Jazu Kissa dengan Jazu Kissa lainnya. Demi keberlangsungan bisnisnya, pemilik kafe berlomba-lomba untuk memiliki piringan hitam paling langka. Tidak hanya yang paling langka, para pemilik kafe juga berlomba-lomba untuk bisa mendapatkan piringan hitam yang paling terbaru. Karena ada beberapa album penting yang dirilis oleh perusahaan rekaman kecil dan independen,para pemilik kafe menulis kepada perusahaan rekaman tersebut agar segera mengirim rilisan piringan hitam terbaru kepada mereka secepatnya. Hal ini mendorong perkembangan hubungan impor antar Amerika dan Jepang.

Masutaa, “biksu” di Jazu Kissa




                        Pemilik kafe ini biasa dipanggil dengan sebutan “masutaa” yang diambil dari kata “Master” dalam bahasa Inggris, karena pemilik kafe yang membeli piringan hitam, para pengunjung akan mempercayai apa yang dikatakan pemilik kafe tersebut. Seorang masutaa akan dijadikan sebagai kritikus musik pertama yang pengunjung tanya pendapatnya. Pendapat seorang  masutaa ternyata bisa mempengaruhi pendapat orang-orang tentang apapun yang berkaitan dengan piringan hitam tersebut, dari musisi maupun perusahaan rekaman yang merilis piringan hitam tersebut. Selain menjadi orang yang bertugas menyiapkan minuman dan makanan serta menjaga agar kafe tetap berjalan, masutaa juga bertanggungjawab atas musik yang dimainkan untuk pengunjungnya.  Masutaa memegang penuh kendali atas lagu apa yang akan dimainkan dan jarang sekali menerima request.
                        Jazu Kissa menjadi tempat berkumpulnya anak-anak muda yang terhipnotis dengan ”menariknya” tensi politik, dan kebudayaan di Dunia pada waktu itu. Anak - anak muda ini juga kemudian terpapar dengan ideologi yang dibawa oleh musik Jazz yang kontroversial. Berkat ini pula, kelompok kosmopolitan yang memuja-muja budaya barat lahir.
Yang menarik tentang Jazu Kissa adalah, tempat ini memiliki peraturan yang hampir sama dengan kuil suci. Kita dianjurkan untuk tidak berisik dan dihimbau untuk mengobservasi nilai estetika dan semangat yang terkandung dalam musik Jazz yang sedang dimainkan. Selain itu, banyak musisi Jazz datang ke Jazu Kissa untuk melatih pendengaran mereka. Mengingat sulitnya mendapatkan kesempatan mendengarkan piringan hitam, Mereka akan  mendengarkan dan mempelajari komposisi lagu tersebut hingga berjam-jam (Atkins, Taylor : 2001). Kebiasaan ini menuai banyak pujian dari para musisi asing yang sedang melakukan tur di Jepang.
Proses pembelajaran para musisi pada zaman Showa- yang notabene sulit untuk mendapatkan piringan hitam untuk dijadikan bahan latihan- ini juga tidak lepas dari peran seorang masutaa. Hubungan antara masutaa dan pengunjung sudah seperti guru dan murid. Tak jarang juga, karena hubungan ini, seorang pengunjung bisa memiliki ikatan yang cukup dalam dengan satu Jazu Kissa dan satu masutaa. Seperti suasana belajar musik tradisional, seorang guru akan mulai memainkan sebuah komposisi lagu, baru setelah itu para murid akan bertanya dan menganalisa lagu tersebut. 
Saat musik Jazz dimainkan, tidak ada yang boleh berbicara

Jazu Kissa tidak seperti tempat berkumpul lainnya, tempat ini sangat sulit dicari dan terkesan rahasia . Jazu Kissa memiliki atmosfer yang remang-remang, serius, dan puitis. Pada tahun 1960an, Jazu Kissa juga menjadi tempat rahasia berkumpulnya para mahasiswa bawah tanah yang biasa disebut dengan “angura” (アングラ), yang diambil dari kata ”underground”. Meskipun dikenal dengan kafe atau kissaten(喫茶店), Jazu Kissa lebih sering menjual whiskey impor daripada kopi. Pengunjung Jazu Kissa juga lebih suka menikmati musik yang dimainkan daripada makanan yang ditawarkan. Tempat ini berisikan catatan buku anak-anak kiri, manga, pemutaran film, dan konser yang diadakan satu sampai 2 bulan sekali. Sampai sekarang,  Jazu Kissa masih menjadi tempat berkumpulnya penggemar musik Jazz di Jepang. Meskipun mereka berjumlah sedikit, mereka merupakan komunitas yang hidup dan serius.
Sekali lagi, untuk kalian yang sedang berkunjung di Jepang, tidak ada salahnya untuk mengunjungi Jazu Kissa terdekat dan merasakan sensasinya.

Saturday, November 3, 2018

5 CARA UNTUK MULAI MENULIS JURNAL HARIAN




        Kita semua setuju bahwa sebuah ide bisa datang kapan  saja. Ide bisa saja muncul saat kita sedang bercengkrama dengan  teman kita, saat kita sedang membaca buku favorit kita, ataupun saat kita sedang tidak melakukan apa-apa sekalipun. Meskipun begitu, seperti asap dari kopi hangat, ide mudah sekali menguap dari kepala kita. Akan sangat disayangkan sekali apabila ide tersebut tidak segera kita dokumentasikan diatas kertas.
       Tidak hanya ide yang harus segera kita dokumentasikan, sebuah perubahan kecil sekecil apapun pada diri kita memang sudah seharusnya patut untuk kita dokumentasikan diatas kertas. Kenapa? Karena dengan begitu, kita bisa terus melacak dan mengevaluasi perkembangan diri kita.
       Sekarang pertanyaannya adalah dimana kita harus menulisnya? Seperti yang telah dituliskan pada artikel sebelumnya, jurnal harian merupakan media yang tepat untuk menuliskan ide dan mendokumentasikan perkembangan anda. Menulis diatas jurnal harian merupakan kegiatan tulis menulis yang akan membuat anda menjadi pribadi yang lebih efisien, disiplin, dan membantu anda untuk bisa mengenal diri anda sendiri.
         Dalam kesempatan kali ini, penulis akan berbagi bagaimana caranya untuk mulai menulis jurnal harian.


1.       PILIHLAH MEDIA TULIS YANG COCOK DENGAN ANDA


Yang pertama harus anda lakukan adalah menyiapkan buku dan alat tulis. Saya sarankan untuk menggunakan buku kecil semacam note, agar anda bisa memasukkannya ke dalam kantung celana anda dan membawanya kemana saja yang anda mau. Usahakan buku yang anda beli adalah buku yang sepenuhnya berhalaman putih polos – tidak ada garis seperti yang biasanya kita temui–Hal ini memberi anda kebebasan untuk bebas berkreasi dengan format menulis yang anda suka.

2.       JANGAN LUPA MENULIS TANGGAL PADA JURNAL ANDA


Tanggal penulisan adalah hal yang penting. Hal ini membantu anda untuk mempelajari jejak sejarah emosi yang anda lalui, atau sekedar menandai kegiatan apa saja yang sudah anda lakukan. Apabila anda disiplin, anda akan terkesima dengan hasilnya.

3.       TULISLAH SEMUA ISI PIKIRAN ANDA




Jadikan jurnal harian ini sebagai ruang pribadi anda. Disinilah anda bebas menjadi diri anda sendiri. Tuliskan apa yang anda rasakan sedetail mungkin. Anda tidak harus menuliskan dalam bentuk paragraf. Anda boleh menggambarnya menjadi mindmapping, ilustrasi, puisi, dll. Hal ini bisa membantu anda mendapatkan gambaran jelas tentang ide anda, sehingga anda bisa mengevaluasi ide anda lebih efisien.

4.       JUJUR


Kunci dari keberhasilan jurnal harian anda adalah kejujuran anda. Apabila melakukan kesalahan dalam bisnis anda, tulislah demikian. Apabila ternyata anda memiliki kebiasaan buruk, tulislah demikian. Semakin jujur anda, semakin jelas gambaran tantangan yang anda hadapi. Semakin jelas gambaranyang anda hadapi, semakin jelas pula langkah anda selanjutnya.

5.       KONSISTEN


Selain kejujuran anda, anda juga dituntut untuk konsisten. Kita semua mempunyai 24 jam yang sama. Luangkanlah 15 menit s/d ½ jam untuk “bercengkrama” dengan jurnal harian anda. Apabila anda konsisten, anda akan terkesima saat anda membaca ulang tulisan anda selama ini.

6.       BACA ULANG TULISAN ANDA



Selain menuliskan perasaan dan ide anda di atas jurnal harian, saya sarankan jangan lupa untuk membacanya kembali. Pembacaan ulang jurnal harian anda bisa dilakukan sebulan sekali atau kalau bisa seminggu sekali. Kenapa? Hal ini bisa membuat anda lebih konsisten dalam menulis jurnal harian anda. Pembacaan ulang ini juga akan menumbuhkan rasa sentimental yang hangat terhadap jurnal harian dan kehidupan anda.

Setiap kali kita mencoba hal yang baru, kita pasti akan menemukan beberapa halangan dan tantangan. Saya sarankan kepada anda untuk terus mencoba dan mencoba. Anda tidak akan pernah tahu kesuksesan sejati sampai anda benar-benar berada diatas. Selamat mencoba!