Apakah anda menyukai musik Jazz? Kita
pasti setuju apabila kita ingin menikmati musik Jazz, kafe adalah tempat
terbaik untuk menikmatinya. Bagi anda yang menyukai budaya Jepang atau saat ini
sedang berkunjung ke sana, saya sarankan untuk mengunjungi Jazu Kissa local ditempat anda menginap.
Apa itu Jazu Kissa?
Jazu
Kissa merupakan singkatan dari “Jazu Kissaten” yang berarti “kafe jazz”.
Jazu Kissa sudah mulai bermunculan
sejak Restorasi Meiji dengan sebutan meikyoku
kissaten(名曲喫茶店).
Tempat ini menjadi tempat dimana para pengunjung bisa mendengarkan musik klasik
barat dengan ditemani oleh pelayan wanita (Takahashi : 2004). Mirriam
Silverberg menjelaskan, kehadiran pelayan wanita kafe yang kian bertambah ini
merupakan indikator bercampurnya budaya metropolitan barat dengan budaya
masyarakat Jepang. Percampuran ini juga diikuti oleh perkenalan musik Jazz dari
Amerika, yang kemudian menjadi musik wajib di setiap kissa. Jazu Kissa pertama didirikan di Chigusa, Osaka Pada tahun 1933, dan
beberapa kemudian sudah ditemukan 40.000 Jazu
Kissa diseluruh negeri (1993, p.125).
![]() |
| Chigusa merupakan Jazu Kissa pertama yang berdiri di Jepang. |
Piringan Hitam yang di dapat
Pada tahun 1950an sampai dengan awal
tahun 1960an, piringan hitam musik Jazz sangat sulit dicari. Salah satu cara
tercepat untuk mendapatkannya adalah dengan mengimpornya. Hal ini tentu
memberatkan para penggemar musik Jazz di Jepang mengingat harganya yang sangat
mahal. Untuk bisa menjadi penggemar yang paling uptodate dan tidak membuat
kantong bolong, mendengarkan piringan hitam musik Jazz bersama-sama di Jazu Kissa merupakan solusi terbaik
(Novak, David : 2008).
Semakin
langka piringan hitam yang diputar, semakin ramai pula pengunjung yang
berdatangan. Hal ini membuat semacam persaingan antar satu Jazu Kissa dengan Jazu Kissa lainnya.
Demi keberlangsungan bisnisnya, pemilik kafe berlomba-lomba untuk memiliki
piringan hitam paling langka. Tidak hanya yang paling langka, para pemilik kafe
juga berlomba-lomba untuk bisa mendapatkan piringan hitam yang paling terbaru.
Karena ada beberapa album penting yang dirilis oleh perusahaan rekaman kecil
dan independen,para pemilik kafe menulis kepada perusahaan rekaman tersebut
agar segera mengirim rilisan piringan hitam terbaru kepada mereka secepatnya.
Hal ini mendorong perkembangan hubungan impor antar Amerika dan Jepang.
Masutaa, “biksu” di Jazu
Kissa
Pemilik
kafe ini biasa dipanggil dengan sebutan “masutaa”
yang diambil dari kata “Master”
dalam bahasa Inggris, karena pemilik kafe yang membeli piringan hitam, para
pengunjung akan mempercayai apa yang dikatakan pemilik kafe tersebut. Seorang masutaa akan dijadikan sebagai kritikus
musik pertama yang pengunjung tanya pendapatnya. Pendapat seorang masutaa
ternyata bisa mempengaruhi pendapat orang-orang tentang apapun yang berkaitan
dengan piringan hitam tersebut, dari musisi maupun perusahaan rekaman yang
merilis piringan hitam tersebut. Selain menjadi orang yang bertugas menyiapkan
minuman dan makanan serta menjaga agar kafe tetap berjalan, masutaa juga bertanggungjawab atas musik
yang dimainkan untuk pengunjungnya. Masutaa memegang penuh kendali atas lagu
apa yang akan dimainkan dan jarang sekali menerima request.
Jazu Kissa menjadi tempat berkumpulnya
anak-anak muda yang terhipnotis dengan ”menariknya” tensi politik, dan
kebudayaan di Dunia pada waktu itu. Anak - anak muda ini juga kemudian terpapar
dengan ideologi yang dibawa oleh musik Jazz yang kontroversial. Berkat ini
pula, kelompok kosmopolitan yang memuja-muja budaya barat lahir.
Yang menarik tentang Jazu Kissa adalah, tempat ini memiliki peraturan yang hampir sama
dengan kuil suci. Kita dianjurkan untuk tidak berisik dan dihimbau untuk
mengobservasi nilai estetika dan semangat yang terkandung dalam musik Jazz yang
sedang dimainkan. Selain itu, banyak musisi Jazz datang ke Jazu Kissa untuk melatih
pendengaran mereka. Mengingat sulitnya mendapatkan kesempatan mendengarkan
piringan hitam, Mereka akan mendengarkan
dan mempelajari komposisi lagu tersebut hingga berjam-jam (Atkins, Taylor :
2001). Kebiasaan ini menuai banyak pujian dari para musisi asing yang sedang
melakukan tur di Jepang.
Proses pembelajaran para musisi pada
zaman Showa- yang notabene sulit untuk mendapatkan piringan hitam untuk
dijadikan bahan latihan- ini juga tidak lepas dari peran seorang masutaa. Hubungan antara masutaa dan pengunjung sudah seperti
guru dan murid. Tak jarang juga, karena hubungan ini, seorang pengunjung bisa
memiliki ikatan yang cukup dalam dengan satu Jazu Kissa dan satu masutaa. Seperti
suasana belajar musik tradisional, seorang guru akan mulai memainkan sebuah
komposisi lagu, baru setelah itu para murid akan bertanya dan menganalisa lagu
tersebut.
![]() | |
| Saat musik Jazz dimainkan, tidak ada yang boleh berbicara |
Jazu
Kissa tidak seperti tempat berkumpul lainnya,
tempat ini sangat sulit dicari dan terkesan rahasia . Jazu Kissa memiliki atmosfer yang remang-remang, serius, dan
puitis. Pada tahun 1960an, Jazu Kissa juga
menjadi tempat rahasia berkumpulnya
para mahasiswa bawah tanah yang biasa disebut dengan “angura” (アングラ),
yang diambil dari kata ”underground”.
Meskipun dikenal dengan kafe atau kissaten(喫茶店), Jazu Kissa lebih sering menjual whiskey
impor daripada kopi. Pengunjung Jazu
Kissa juga lebih suka menikmati musik yang dimainkan daripada makanan yang
ditawarkan. Tempat ini berisikan catatan buku anak-anak kiri, manga, pemutaran film, dan konser yang
diadakan satu sampai 2 bulan sekali. Sampai sekarang, Jazu
Kissa masih menjadi tempat
berkumpulnya penggemar musik Jazz di Jepang. Meskipun mereka berjumlah sedikit,
mereka merupakan komunitas yang hidup dan serius.
Sekali lagi, untuk kalian yang sedang
berkunjung di Jepang, tidak ada salahnya untuk mengunjungi Jazu Kissa terdekat dan merasakan sensasinya.









